Modus Beragama Ala Candu
Sebuah
Penelusuran Metode Keberagamaan
Kalau cara keberagaman dikotak-kotak
dalam sejumlah kategori, manakah keberagamaan yang paling ‘derestui’ oleh Allah
? Misalkan cara keberagamaan ini dikategori sebagai berikut: fundementallis, konservativ, moderat, atau
kalau masih boleh menyebut liberal. Kategori semacam ini marilah kita sebut
sebagai kategorik sosiologik. Sejumlah kategori
ini mempunyai jarak yang lumayan jauh dengan kategori yang ada dalam Al Qur’an.
Al Qur’an menyebut, misalnya kedalam kategori orang-orang yan shalih, munafik,
an kafir. Atau, pada sisi lain dalam kategori beriman dan tidak beriman. Apakah
ketegori semacam fundementallis, konservativ, dan moderat, atau kalau masih
boleh menyebut liberal itu dapat disandarkan dengan kategori yang
dikonstruksi di dalam Al Qur’an ? Jika
tidak maka berarti memang tidak ada hubungan antara orang-orang konservatif dengan
kesholehan.
Hemat saya sementara ini, tidak ada hubungan
antara ketegori yang dibuat sosiologi dengan konstruksi dalam kkitab suci. Sehingga
tidk perlu orang liberal itu otomatis masuk neraka, karena misalnya konsep
liberal tidak musti disejajarkan dengan munafik atau kafir. Pada lain sisi
dalam pandangan liberal, orang orang yang bermodus fundamentalis atau
konservatif disebutnya sebagai cara beragama yang tidk mau sedikit berfikir
menangkap pesan-pesan subtantif agama. Bahkan, bagi kalangan moderat atau
liberal, kalangan konservatif itu justru memanipulasi agama (hanya)
untuk ‘kamuflase’. Kalangan konserfatif
sangat senang sekali mengeksploitasi ibadah. Misalnya ibadah haji atau
umroh diletkkannya sebgai ‘kesenangan spiritual’. Apa yang
salah dengan ini? Konstruksi berfikir
kalangan konservatif semacam ini mudah sekali terpeleset meletakkan
spiritualitas sebagai suatu ‘komoditas’. Cerita-cerita di tengah masyarakat tetang
komodifikasi umroh mudah menggeser agama ini sebagai ‘agama para kapitalis’.
Bayangkan, atas nama sebuah ‘kesenangan spiritual’ di depan ka’bah ia menumpulkan
diri dari ratusan bahkan ribuan manusia yang tetangganya yang jauh kekurangan. Tak
perlu berdiskusi panjang tentang apa
yang bisa diperbuat terhadap kalangan marjinal karena toh artikulasi
sensitifitas ini bisa seribu satu cara! Diantaranya membantu begitu saja menhyekolahkan
anak-anak kelompok marjinal, daripada bertamasya spiritual. Soal spiritual toh
bisa pula diartikulasikan seribu satu cara tanpa harus melempar uang tak karuan
atas nama spiritual. Atas nama ‘kesenangan spiritual’ tumpulnya sensitifitas terhadap penderitaan tetangga menjadi
absyah. Tentu saja, bisa koment trhadap tulisan saya ini sebgai penuh su'uzdon dan kesumat atas orang-orang yang umroh berulangkali. Kita bebas berkomentar. Bagi saya adalah aneh umroh berulang tanpa rasa risi terhadap masih hadirnya tetangga sebelah rumah dan keluarga jauh yang tak mampu bayar SPP dan seterusnya. Bagaimana kita mau mengingkari realitas semacam ini masih dalam kerangka su'uzdhon ? Bukankan malah sebaliknya, siapa yang sesungguhnya ber-su'uzdhon!
Setelah pulang umroh ia seperti manusia yang
tersucikan, tanpa berkorelasi positif terhadap perbaikan kualitas kemanusiaan tangga
kiri kanan. Ketersucian ini ironis, kembali ke kampung halaman yang penuh
ketimpangan, kesenjangan, marjinalisasi. Lebih gila: ia seperti orang terpilih karena diberi
kesempatan umroh berulang-ulang tak seperti tetangganya yang kekurrangn.
Lantas, apa fungsi islam sebagai elan vital penyelesaian persoalan kemanusiaan yang
selama puluhan dan ratusan kali dicontohkan nabi-nabi ? Islam mengajarkan bahwa kita tak bisa cuci
tangan atas ketimpangan dan penderitaan orang-orang sekitar kita.
Tetapi, hari ini agama bergeser menjadi candu!